Kamis, 24 Februari 2011

INVESTASI

Banyak sekali bisnis yang dapat kita dilakukan baik dalam jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang, semuanya bertujuan untuk mendapatkan nilai plus, tambah atau untung di kemudian hari. Jika anda membeli sebidang tanah tentu dengan harapan jika nantinya harga tanah bias menjadi lebih mahal. Atau Jika anda menyimpan uang di bank dengan harapan mendapatkan bunga dari simpanannya. Secara umum, semua tindakan di atas dapat dikategorikan sebagai tindakan investasi.

Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.


Bagi masyarakat modern, kata investasi tentu tidaklah asing. Bisa jadi setiap hari kita mendengar kata itu. Sebab, semakin tinggi pendidikan

seseorang semakin tidak bersedia membiarkan asetnya menjadi tidak berkembang dan untuk mengembangkan asetnya tersebut maka diperlukan investasi. Sebagian masyarakat lainnya barangkali telah melakukan investasi tetapi tidak menyadari­, seperti para petani dan peternak di pedesaan.

Apa sebenarnya investasi tersebut? Banyak pakar yang telah merumuskan definisi investasi ini.

Misalnya, rumusan dari Sharpe et all (1993), pengertian investasi adalah: mengorbankan aset yang dimiliki sekarang guna menda­patkan aset pada masa mendatang, tentu saja dengan jumlah yang lebih besar. Jones (2004) mendefinisikan investasi sebagai komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.

Lebih lengkap definisi investasi diberikan oleh Reilly dan Brown, yang mengatakan bahwa investasi adalah komitmen mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode waktu ke masa depan guna mendapatkan penghasilan yang mampu mengkompensasi pengor­banan investor berupa:

  1. Keterikatan aset pada waktu tertentu
  2. Tingkat Inflasi
  3. Ketidaktentuan penghasilan pada masa men­datang.

Dari beberapa definisi yang disampaikan di atas, kita bisa menarik pengertian investasi, bahwa untuk bisa melakukan suatu investasi harus ada unsur ketersediaan dana (aset) pada saat sekarang, kemudian komitmen mengikatkan dana tersebut pada obyek investasi (bisa tunggal atau portofolio) untuk beberapa pe­riode (untuk jangka panjang lebih dari satu tahun) di masa menda­tang. Selanjutnya, setelah periode yang diinginkan tersebut tercapai (jatuh tempo) barulah investor bisa mendapatkan kembali asetnya, tentu saja dalam jumlah yang lebih besar, guna mengkompensasi pengorbanan investor seperti yang diungkapkan Reilly dan Brown.

Namun, tidak ada jaminan pada akhir periode yang ditentukan in­vestor pasti mendapati asetnya lebih besar dari saat memulai inves­tasi. lni terjadi karena selama periode waktu menunggu itu terda­pat kejadian yang menyimpang dari yang diharapkan. lnilah, yang disebut risiko. Dengan demikian, selain harus memiliki komitmen mengikatkan dananya, investor juga harus bersedia menanggung ri­siko. Selain dapat menambah penghasilan seseorang, investasi juga membawa risiko keuangan jika investasi tersebut gagal. Kegagalan investasi disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah faktor keamanan (baik dari bencana alam atau diakibatkan faktor manusia), atau ketertiban hukum.